(PERFORMING ART)
Seni pertunjukan sejatinya adalah
perubahan yang terus menerus
yang dibangun melalui berbagai
kreativitas.
Ia bukanlah
pengulangan-pengulangan yang membosankan
tapi inovasi tiada henti dalam
setiap detik penampilannya. (Hery
MB).
Hery Musbiawan
Penulis dan
Peneliti
Seni Budaya Sumbawa
Ketua Komite Musik
Dewan Kesenian Sumbawa
Manajemen Seni Pertunjukan merupakan suatu
bentuk strategi pengembangan kesenian melalui berbagai langkah terobosan yang
bertujuan untuk melahirkan pentas seni yang berbobot dan berkualitas serta di
garap secara profesional dan proporsional. Di seluruh daerah di Indonesia termasuk
Sumbawa, terdapat beragam seni tradisi yang kemasannya masih sangat sederhana,
hampir belum tersentuh oleh manajemen seni modern, cara penyajiannyapun masih
terpaku pada pola-pola lama yang kaku dan seringkali terkesan monoton.
Manajemen seni pertunjukan ini memiliki ruang lingkup yang luas, bukan hanya
berlaku untuk pentas seni tradisi, tapi juga seni modern, serta tidak hanya
menyentuh persoalan tekhnis kesenian, tapi juga non tekhnis yang seringkali
diabaikan oleh para pembina kesenian di Sumbawa. Tulisan ini khusus menyorot
tentang persoalan tekhnis kesenian terutama yang berkaitan dengan manajemen
pentas yang saat ini perkembangannya tidak begitu merata di Kabupaten Sumbawa.
Memantau perkembangan pentas seni tradisi khususnya
di Tana Intan Bulaeng ini, baik dalam bentuk pergelaran biasa maupun lomba, dari
lomba yang diadakan oleh sanggar-sanggar seni, institusi pendidikan maupun yang
saat ini sedang berlangsung yaitu Pekan Budaya Samawa (PBS) XV tahun 2012, masih
banyak hal yang harus dibenahi oleh para pelaku seni Sumbawa untuk dapat menyuguhkan
tontonan yang menarik kepada masyarakat. Dari 5 (lima) jenis seni tradisi yang
berkembang di Sumbawa, ada 2 (dua) bidang yang bersentuhan langsung dengan seni
pertunjukan, yaitu ; Musik dan Tari.
Musik
Musik
tradisional Sumbawa merupakan musik ritmis, atau musik yang aksentuasinya lebih
pada irama, bukanlah musik melodius. Dalam Musik Etnik Sumbawa tidak terdapat
gamelan seperti musik daerah Bali, Lombok maupun Jawa. Gamelan bagi
daerah-daerah tersebut selain berfungsi sebagai pembawa melodi (alunan), juga
sebagai ‘roh’ musik, berbanding terbalik dengan Musik Tradisional Sumbawa
yang alat musik
utamanya justru adalah genang
(gendang) yang berfungsi sebagai
pembawa ritme atau pemimpin irama. Sebagai sebuah musik ritmis, Musik Daerah
Sumbawa kaya dengan irama yang terwakilkan dalam temung (jenis pukulan), baik temung yang terdapat pada genang,
rebana, palompong, dsb. Dalam Musik Tradisional Sumbawa, keberadaan serune yang
merupakan satu-satunya alat musik tiup yang memiliki notasi yang paling sering
digunakan, hanya berfungsi untuk memberi nuansa melodis, namun alunannya tetap
mengikuti alur musik yang dibuat oleh genang sebagai pemimpin irama.
Musik Tradisional Sumbawa dengan segala
potensinya baik dalam bentuk ragam alat musik maupun ragam tembang merupakan aset
yang sangat berharga bagi daerah ini. Ia adalah kekayaan yang tiada
habis-habisnya untuk digali. Sebagai sebuah musik ritmis, musik daerah Sumbawa memberikan
ruang seluas-luasnya bagi eksplorasi imajinasi melalui berbagai jenis pukulan (temung)
yang terdapat dalam setiap alat musik. Dari hasil penelitian yang dilakukan
oleh penulis yang kemudian dituangkan dalam sebuah buku berjudul Ragam Alat
Musik Tradisional Sumbawa terbitan Dinas BUDPAR Propinsi NTB, terdapat 35 alat
musik tradisional Sumbawa dan 6 (enam) ragam bunyi-bunyian. Ke-35 alat musik
ini masing-masing memiliki fungsi musikal yang dapat dimanfaatkan dalam
berbagai event kesenian baik tradisi maupun modern. Selain itu, juga terdapat reberapa
ragam alat bunyi-bunyian seperti rebana
bakal, sarebab, cuik mayung, yang dapat digunakan untuk memberikan nuansa
natural sebuah pementasan.
Monotonnya sebuah pergelaran musik selain
disebabkan karena minimnyanya kreativitas dalam hal membangun dinamika musik,
juga karena si seniman tidak membuka diri terhadap keberadaan alat-alat musik
lain, masih berkutat pada alat-alat standar, seperti musik pengiring tari dengan
hanya menggunakan genang, serune, gong, rebana rea, palompong dan santong srek.
Alat-alat musik standar ini dapat saja digunakan tanpa bantuan yang lainnya, tapi
untuk menjadikannya sebagai sebuah musik yang “hidup” dan dinamis, seorang
penata musik minimal harus memiliki pemahaman tentang dasar-dasar teori musik,
baik menyangkut fungsi alat, penempatan bunyi dari tiap-tiap alat
(proporsional), maupun dinamika musik. (hening, keras, cepat, lambat, dan
lembutnya sebuah musik ketika dimainkan). Hal lain yang dapat dilakukan adalah
dengan memperkaya pukulan genang melalui penggalian yang lebih mendalam tentang
temung-temung genang sehingga dapat memberikan alternatif bagi penata tari
untuk membuat gerakan yang sesuai dengan irama temung genang..
Selain alat musik, kekayaan lainnya dari Musik
Tradisional Sumbawa adalah tembang. Dalam tembang tradisional ada sakeco, primadona sastra lisan Sumbawa, gero dan ratib rebana ode yang memiliki nilai spiritual yang tinggi, badede yang mistik, malangko dan bakelung yang
sangat diakrabi oleh muda mudi, ulan
yang mendayu-dayu, dsb. Sampai saat ini, kekayaan budaya ini belum sepenuhnya
mampu dioptimalkan untuk menjadi sebuah hiburan atau tontonan yang menarik,
meski sudah ada beberapa seniman yang telah mampu melahirkan karya yang
berkualitas, tapi sebagian besar masih berkutat pada minimnya pemahaman tentang
dasar-dasar teori kesenian, seperti sakeco misalnya.
Pada awalnya, sakeco hanya dimainkan oleh
laki-laki, namun berikutnya, kaum hawa tidak mau kalah, sehingga saat ini
banyak bermunculan grup sakeco perempuan, bahkan dalam beberapa tahun terakhir ada
yang berupaya untuk membuat kemasan baru sakeco dengan menggantikan fungsi
rebana ode dengan alat musik modern. Pada
perkembangan terakhir, antara pe-sekeco laki-laki dan perempuan di coba untuk
di gabung dalam bentuk saling siyer (saling bersahut-sahutan). Penggabungan
antara pe-sekeco laki-laki dan perempuan ini merupakan sebuah upaya untuk
menjadikan sakeco sebagai sebuah tontonan yang lebih menarik. Namun dalam
tekhnis penyajiannya, penggabungan ini membutuhkan ketelitian dan pemahaman yang
kuat terutama tentang teori musik khususnya yang berkaitan dengan balancing
atau keharmonisan nada antar pe-sekeco. Selain itu, beberapa tekhnik pukulan
khas sakeco juga harus dikuasai dengan baik. Nada dasar memiliki peranan yang
sangat penting dalam mengharmonisasikan nada antara pe-sekeco laki-laki maupun
perempuan. Masyarakat Sumbawa telah terbiasa mendengar sakeco ditembangkan
dengan suara lantunan yang tinggi terutama ketika dibawakan oleh pe-sekeco
laki-laki, namun ketika digabungkan, maka hanya ada 2 (dua) pilihan, yaitu
meninggikan suara laki-laki dengan merendahkan suara perempuan atau sebaliknya.
Kesalahan dalam pengambilan nada dasar akan mengakibatkan munculnya nada yang
fals yang sangat mengganggu. Ketika dilombakan dalam ajang PBS XV, sebagian
besar peserta terjebak pada pengambilan nada yang salah dan mininmya
pengetahuan tentang bentuk-bentuk pukulan sakeco. Mungkin dibutuhkan waktu yang
tidak terlalu lama untuk dapat menyaksikan tontonan yang menarik dari sakeco
gabungan ini, melihat animo yang sangat besar dari masyarakat terutama dari para
pelaku seni maupun pembina kesenian.
Selain sakeco, tembang daerah Sumbawa lainnya
yang perlu mendapat perhatian adalah malangko, bagandang, bakelung dan ratib
rebana ode/rea. Malangko merupakan tembang muda mudi dalam bentuk saling siyer
lawas. Seperti juga bakelung, tembang ini bersifat statis dalam bentuk
pengulangan-pengulangan nada. Ia tidak memiliki reffrain seperti sakeco maupun
ratib rebana ode/rea. Namun demikian, malangko memiliki potensi untuk
dikembangkan menjadi sebuah pertunjukan yang menarik dengan menambah nuansa-nuansa
baru dalam penampilannya, diantaranya dengan memperpendek durasi waktu dengan
membuat lawas yang menarik, singkat, padat dan jelas. Bila selama ini, malangko
hanya diiringi dengan serune, dapat di tambah dengan alat musik lainnya seperti
genang, rebana kebo, palompong, dsb. Keberadaan alat-alat musik ini, apabila di
kemas dengan baik akan mampu menghidupkan suasana malangko. Selain itu, dari
sisi penyajiannya juga dapat dimasukkan nuansa teaterikal baik yang langsung
diperankan oleh sang penyanyi, maupun dari pemain latar. Hal ini juga berlaku
dalam membuat kemasan baru bakelung maupun bagandang. Khusus yang berkaitan
dengan ratib rebana ode/rea, jenis kesenian ini lebih berkembang di luar
pentas. Untuk menjadikannya mampu tampil dalam penampilan yang memukau di atas
panggung, dibutuhkan proses yang agak lama
Tari
Tari merupakan bahasa tubuh yang divisualisasikan
dalam bentuk gerak berirama. Seperti juga puisi, maka dalam tari terdapat
simbol-simbol yang memiliki makna beraneka ragam. Ada yang bercerita tentang
kesetiaan, kesedihan, keramahtamahan, dll. Dalam tarian Sumbawa, setiap
geraknya memiliki makna khusus. Ada gerakan yang langsung dapat dimaknai, namun
ada juga yang tidak. Tarian Sumbawa berbeda dengan tari Bali maupun Lombok yang
dinamis dengan hentakan musik yang keras. Gerak dasar dalam tarian Sumbawa
seperti tanak, bagitik, tabe bede aji,
rempak sisik, payung kagisir, dsb, sebagian besar merupakan gerakan-gerakan
yang halus dan lembut, kecuali pada beberapa gerak dasar tarian laki-laki yang
sedikit agak menghentak. Kondisi inilah yang menyebabkan tari-tarian Sumbawa
sangat rentan dengan terjadinya monotonitas ketika ditampilkan dalam sebuah
pementasan, sehingga sangat di tuntut kreativitas dari sang penata tari bekerja
sama dengan penata musik untuk meracik, mengolah, meramu semua potensi yang ada
baik dari sisi gerakan, musik pengiring, komposisi maupun properti tari. Sebuah
tari tradisi akan menjadi lebih hidup ketika didalamnya tidak terlalu banyak
pengulangan-pengulangan gerak, komposisi tari maupun musik pengiring, apalagi
bila dilakukan dalam durasi waktu yang lama.
Pada perkembangan terakhir, tari daerah telah
masuk dalam ranah kontemporer, sebuah ranah yang memberikan ruang yang begitu
luas bagi eksplorasi tari, namun tetap berpijak pada akar budayanya sebagai
seni tradisi. Bagi beberapa daerah di Indonesia terutama yang memiliki
institusi pendidikan seni, seperti Jawa, Bali maupun Sumatera, ranah ini tidak
terlalu asing, bahkan Lombok pun dengan keberadaan beberapa senimannya yang
pernah berguru tari di luar daerah, mulai membuat karya tari-tari kontemporer
Lombok. Bagaimana dengan Sumbawa? Apakah daerah ini telah siap untuk maju
setapak lagi atau masih tetap ingin bernostalgia dengan kondisi saat ini?.
Saran
1.
Sebuah
kesenian akan berkembang apa adanya ketika ia dikembangkan juga dengan apa
adanya, begitu pula dengan pentas seni tradisi akan tampil apa adanya ketika ia
ditampilkan juga dengan apa adanya. Manajemen Seni Pertunjukan sejatinya adalah
bagaimana membuat setiap detik waktu pementasan menjadi begitu berharga, dengan
selalu membangun nilai-nilai surprise tanpa terlalu banyak memberikan ruang
bagi adanya pengulangan-pengulangan. Namun demikian, kreativitas tanpa di
dukung oleh ilmunya, juga tidak cukup untuk membangun sebuah pementasan yang
berkualitas, sehingga diperlukan proses pembelajaran yang berkesinambungan dari
para pelaku seni khususnya para pembina kesenian,
2. Ajang
PBS XV selain merupakan ajang tontonan dan perlombaan, sejatinya juga merupakan
ajang pembinaan, karena nonda kemang
paneng diri, tidak ada satupun kemajuan dalam sejarah sebuah kebudayaan
ketika ia hanya di tonton dan dibiarkan berkembang sendiri. Seniman Sumbawa
memiliki hak untuk mendapat ilmu tentang seni, dan itu hanya dapat diberikan
oleh orang-orang yang telah memiliki ilmu tentang kesenian itu sendiri,
sehingga transformasi ilmu antara seniman yang satu dengan seniman yang lain
menjadi sangat penting karena dapat dimanfaatkan sebagai bekal dalam menghadapi
event-event seni berikutnya,
3.
Sudah
saatnya untuk mengadakan workshop tentang dasar-dasar kesenian bagi seluruh
pembina kesenian yang ada, terutama bagi kecamatan-kecamatan yang baru
terbentuk dari hasil pemekaran, hal ini akan sangat bermanfaat bukan hanya bagi
munculnya seniman-seniman lokal yang siap pakai, tapi juga untuk terciptanya
pemerataan pengembangan kesenian di seluruh wilayah yang ada di Kabupaten
Sumbawa tercinta ini, atau dengan mengirimkan beberapa calon penata tari
berbakat untuk magang di luar daerah.

0 komentar:
Posting Komentar